25 August 2010

Mawar Merah Yang Terbelah (eps. 3, selesai)

 Mawar Merah Yang Terbelah (eps. 3, selesai)
Oleh: Adam Muhammad
Aku terdiam. Menatap istriku dalam-dalam. Mengingat-ingat masa-masa indah kami selama 13 tahun pernikahan kami. Sebuah pernikahan yang memang luar biasa. Sebuah pernikahan yang kami bangun mulai dari awal. Ketika itu aku masih berusia 21 tahun! Dan istriku lebih tua dua tahun dariku. Awal memulai memang agak berat, namun lama-kelamaan kami semakin padu. Karena kami yakin pernikahan adalah salah satu bentuk ibadah. Dan ibadah harus dilakukan sesuai dengan ketentuan-ketentuan-Nya. Dan apa pun kalau sudah mengikuti jalan yang telah digariskan oleh Allah dan Rasul-Nya insyaallah akan berakhir bahagia.
Aku tersenyum. Aku pegang tangan istriku. Kukecup keningnya. “Baiklah Ummi, Abi sudah sangat mengerti dengan alasan mengapa Ummi menginginkan Abi menikahi Aisya. Terimakasih atas perhatiaan dan cinta kasih Ummi kepada Abi yang begitu mendalam. Abi begitu terharu. Yang harus Ummi kenang adalah bahwa cinta Abi tak berkurang sedikit pun kepada Ummi. Tetapi Abi tetap akan menjawabnya nanti malam”

“Terimakasih sayang. Tetapi ketahuilah, Ummi sudah menangkap isyarat bersedianya Abi untuk menikahi Aisya. Ini juga kan untuk membahagiakan Ummi.” Ia mencubit hidungku lagi. Kalau sudah begini berarti ia sudah sangat bahagia.

Mawar Merah Yang Terbelah (eps.2)

Mawar Merah Yang Terbelah (eps.2)
Oleh: Adam Muhammad

Lidahku keluh. Tak seuntai kata pun bisa keluar dari mulutku. Aku yang biasanya selalu humoris di depan istriku. Aku yang biasanya membuatnya tertawa riang. Aku yang biasanya tidak pernah serius 100 % menghadapi istriku. Kali ini sungguh berbeda. Kali ini aku harus menghadapi situasi yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Aku hanya terdiam. Kupejamkan mataku. Memejam rapat. Aku berusaha melepas genggaman tangan istriku. Namun ia tidak melepas genggamannya. Kucoba lagi, ia malah lebih erat menggenggam. Kuberanikan diriku membuka mata. Ia masih menatapku. Lekat. Senyumnya sumringah. Senyuman mengembang yang begitu rekah.

“Bagaimana Abi? Abi setuju kan?” diciumnya tanganku. “Abi… Abi…” kerongkonganku masih tercekat.
“Abi pasti setuju. Ya kan?” kini ia yang menggodaku.
“Beri waktu Abi memikirkan ini ya Ummi.” Aku butuh waktu untuk menormalkan kembali urat syarafku. Aku tidak ingin terburu-buru menjawab permintaan istriku ini. Bagiku ini masalah yang amat serius. Mungkin bagi sebagian suami berada dalam posisi sepertiku sekarang bagaikan mendapat durian runtuh, tapi tidak bagiku.

Mawar yang Terbelah (eps. 1)

Mawar yang Terbelah (eps. 1)
oleh: Adam Muhammad

“Abi, ummi sangat sayang sama Abi” istriku memelukku dari belakang. Hatiku berdebar kencang. Aku ragu membalas ungkapannya. Bukan karena aku tidak menyayangi, justru aku sangat menyayanginya. Namun, aku sangat mengenal perilakunya. Ketika ia ingin bermanja-manja denganku ia akan bilang bahwa ia sangat mencintaiku. Tetapi kalau ia sudah mengungkapkan rasa sayangnya, pasti ada maunya. Dan kalau sudah begini sulit bagiku untuk menolaknya.


Kuhentikan pekerjaanku. Aku tutup laptopku. Kini kami sudah berhadapan. Sungguh cantik bidadariku yang satu ini. Senyumnya tak pernah pergi dari wajahnya ketika berbicara padaku. Dan sungguh ini membuat rasa penatku bekerja lenyap seketika melihat wajahnya.


“Abi, kok ngelamun terus dari tadi. Ayo… mikirin ummi ya?” ia mencubit hidungku.